Selasa, 12 Maret 2013

Tentang Pernikahan


Tentang Pernikahan
I. Jalan Yang Ku Pilih


Sahabat, tentang pernikahan adalah hal yang kerap jadi pembicaraan. Meski dihiasi semburat pipi yang memerah, atau sekedar canda yang mengundang gelak tawa, namun sesungguhnya pernikahan tidak sesimpel itu, meski tak pula sesulit yang dibayangkan. Bagiku menikah adalah sebuah perjalanan cahaya dan perjuangan visi serta cita-cita yang panjang. Bagiku Menikah adalah membangun pondasi keimanan dan menapaki langkah-langkah menuju kejayaan Islam. Sungguh berada dalam kehangatan visi Islam adalah kebahagian dan anugerah yang terindah. Dan hidayah ini kan kupeluk erat hingga masa pertemuan denganNya. Insya Allah.

Namun dalam perjalanannya, meraih cita-cita dan istiqomah dalam kebaikan adalah perjuangan yang berat. Ada banyak godaan yang hadir. Saat idealisme mulai dipertaruhkan dan menyisakan begitu banyak toleransi. Seperti perjalanan saat ini yang kutemui berbagai pilihan didalamnya. Dan aku harus mulai melangkah, membuat sebuah keputusan besar di persimpangan dua jalan yang berada dihadapanku.


II. Dua Jalan
Ust. Saiful Islam bercerita dalam sebuah bukunya … Ketika seseorang sampai di sebuah persimpangan jalan, yang satu ke arah kanan dan yang satu ke arah kiri, dia pasti akan memilih salah satu diantara keduanya. Karena dia sebagai pendatang atau orang asing, Dia tidak punya bukti jalan mana yang tepat untuk dia tempuh agar mencapai tujuan. Dalam kondisi seperti ini dia benar-benar memerlukan informasi yang dapat dipercaya, misalnya dari penguasa setempat atau dari pengalaman orang-orang yang pernah menempuh kedua jalan tersebut.

Seperti orang asing demikian pula dengan ku, berbekal kestiqohan dan keimananan meski dalam kebingungan. Ketika sampai di sebuah persimpangan… persimpangan kehidupan yang benar-benar membutuhkan perenungan mendalam. Keputusan yang ku buat ... mengenai jalan mana yang harus ku tempuh … merupakan penentu arah kehidupan aku selanjutnya. Penentu keberhasilan cita-cita dan idealisme yang selama ini kubangun. Tentang pernikahan, tentang sebuah ikatan pertama yang kupersembahkan pada da’wah dan tentang selaksa cinta yang syar’i dan menenangkan.

Menikah, subhanallah. Terkadang berkecamuk dalam benak ku berbagai hal tentangnya, kadang tersenyum sendiri, kadang dengan kening yang berlipat-lipat, kadang serius, kadang bersama tawa, dan tak urung bahkan tangisan. Pertanyaan-pertanyaan yang hadir menggodaku tuk berada di persimpangan jalan antara menikah atau tidak. Beragam macam pertimbangan muncul dalam serebrum ku. Sejumlah pertentangan… yang menimbulkan keraguan … berkecamuk dalam hati. Terhenti sejenak … Benarkah aku harus menikah? Tapi .. mengapa aku harus menikah? Kalo tidak menikah, bagaimana? Kalo menikah … juga bagaimana … keluarga ku … karier ku … cita-cita ku? Apakah menikah itu adalah sebuah solusi dari segala permasalahan yang ada … atau justru … kelak menjadi sumber masalah?

Waktu mengajarkan aku banyak hal. Tentang menjalankan sunnah Rasulullah, dan menjadikannya kekuatan da’wah. Hingga semua tanya yang ada perlahan menemukan jawaban. Dengan segenap hikmah yang Dia berikan dalam setiap istikhoroh dan doa-doa dalam sujud panjangku. Hingga hanya ada satu jawab. Cukuplah Alloh bagi ku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.

Berbekal keyakinan bahwa seseorang yang melaksanakan pernikahan, berarti telah menyempurnakan separuh agamanya …. Berharap Alloh memperbaiki dan membaguskan akhlak ku … tergiur dengan segala keutamaan yang Alloh janjikan … bercita untuk bisa bersama dengan Rasulullah di jannah-Nya sebagai umat beliau … aku putuskan untuk mengambil sebuah jalan … Insya Alloh, aku siap menikah.
Aku pun sampai pada persimpangan jalan yang lain. Persimpangan jalan dengan pertanyaan mendasar … Di jalan apakah aku akan menikah? … Subhaanallah … ternyata persimpangan ini jauh lebih menantang … Kelak jalan yang dipilih … turut menentukan kepada siapakah pilihan untuk menjadi pasangan hidup ini aku putuskan.
Aku harus memilih satu dari banyak jalan yang ditawarkan. Kesemuanya menawarkan keindahan … kesemuanya menjanjikan kebahagiaan .. . Jalan yang tampak begitu memesona hingga mengiurkan hawa nafsu .

Ada Jalan Instinktif … Ah, ini sih pilihan tradisional, pernikahan dianggap sebagai cara menyalurkan kebutuhan biologis saja. Ust. Cahayadi Takariawan bilang, ini adalah jalan yang dipilih oleh masyarakat yang awam akan agama, dan jauh dari sentuhan spiritualitas.

Bagaimana dengan Jalan materialisme ? … Jalan yang menawarkan janji-janji serba materi. Kekayaan, kemegahan, keserbapunyaan materi menjadi tawaran tatkala aku mau menapakinya. Tampan, cantik dan kaya menjadi ukuran untuk memilih siapa yang berhak menjadi pasangan hidup. Sekilas jalan ini menjanjikan segudang solusi bagi kesulitan hidup … Ah, mengapa sulit sekali kaki ini dilangkahkan? Bertanya pada nurani … Inikah kebahagiaan sejati? Bukankah materi bersifat tidak kekal? Dan sifat materi pun tidak pernah bisa memuaskan.

Kembali menebar pandangan … cemas. Hanya tersisa sebuah jalan. Tetapi mengapa jalan ini tampak terjal … mendaki …penuh bebatuan. Jalan ini tampak sanagat melelahkan bagi para penempuhnya. Namun … dari keterangan yang di dapat juga cerita para pendahulu … jalan inilah yang membawa pada tujuan. Jalan yang tepat bagi para pencari ridho Illahi.
Inilah Jalan dakwah … Jalan yang menolak kemewahan, walaupun tidak mengharamkan materi asalkan diperoleh dengan cara yang benar. Jalan yang memberikan perhatian besar terhadap kecnderungan ruhaniyah akan tetapi tidak mengabaikan segi-segi materi. Jalan yang mengantarkan Nabi Muhammad SAW menikahi istri-istrinya. Jalan yang menghantarkan Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah. Jalan yang menyebabkan bertemunya Ali ra dan Fatimah Az Zahra dalam sebuah keluarga.

Bismillahirrahmanirrahiim … Hadzihi sabili … inilah jalanku … inilah jalan yang ku pilih …. Berharap mendapat keberuntungan … aku beranikan diri tuk melangkah. Mengikuti jejak Rasulullah … jejak para salafush shalih … Di persimpangan jalan ini ku putuskan untuk melangkahkan kaki memasuki sebuah jalan … jalan dakwah … Ya …aku telah memilih untuk menikah di jalan dakwah dan juga syahid di jalan ini dengan kematian yang indah. Amiin.
Semoga Alloh senantiasa menjaga niat ku dari kotoran-kotoran yang tidak aku ketahui dan kebusukan yang tidak mampu aku hilangkan sendiri. Semoga Alloh mengampuni ku dan memperbaiki niat ku.


III. Tentang Pernikahan dengan Da’wah
Cerita tentang pernikahan tak berakhir digerbang akad. Tapi justru menjadi titik nol dan awal perjuangan yang jauh lebih berat. Untuk cita-cita yang juga jauh lebih besar. Pada akhirnya nanti setiap hari-hari dalam kehidupan kami (aku dan pasangan hidupku … kelak) akan kembali mempertanyakan idealisme yang mempertemukan kami. Tentang kesungguhan, komitmen dan cinta pada Allah SWT, Rasulullah dan da’wah Ilallah.

Maka tentang pernikahan, akan jadi cerita panjang. Penuh onak, berliku, dan sedikit orang yang mau menapaki nya. Menikah adalah menjadi kaya, dengan azzam, iltizam, hamasah dan segenap jihad yang membara. Kami sudah pernah menikah, dengan da’wah ini. Juga tak keberatan dinomor duakan setelah da’wah. Ini adalah idealisme yang hadir hari ini, namun doakanlah agar idealisme ini terus hadir dalam hari-hari kami kedepan. Tuk terus memperbaiki niat, menyempurnakan amal dalam bahtera rumah tangga ini. Semoga kelak, kami tak menjadi burung yang patah sayap, dan menjadikan istri, anak dan perniagaan yang ada menjadi fitnah.

Sungguh aku ingin berbagi cita tentang menjadi istri da’i. Tentang kisah Ummul Mukminin Khadijah, dan teladannya menjadi istri Rasulullah yang mendukung setiap aktivitas da’wah Rasulullah, dengan hatinya, dirinya, malnya dan segenap cintanya. Juga tentang Ummu Sulaim, dan segenap hikmah yang hadir dari keshalihannya. Dan tentang para mujahidah-mujahidah Afghanistan yang senantiasa mendorong suaminya untuk pergi berjihad. Kebanggaan yang hadir, kebahagian yang mencuat, dan gelora hamasah yang menggelora dari istri-istri mujahid-mujahid Palestina. Karena pernikahan dengan da’wah yang membawa cita tinggi ke angkasa, menjadi manusia-manusia langit. Menjadi syuhada.
Sungguh, aku ingin seperti mereka, menjadi jalan kebaikan bagi suamiku tuk raih jannahNya. Tuk dibanggakan dihadapanNya. Maka yang kulakukan adalah dengan menyemai bibit kebaikan dalam pernikahan ini, agar pernikahan ini penuh berkah. Menjadi rumah yang dinaungi para malaikat. Bercahaya dengan Nur Al-Qur’an. Menjadi madrasah bagi jundi-jundi yang kelak hadir.

IV. Pernikahan…
Tentang pernikahan, akan banyak tulisan yang takkan mampu dituangkan. Ada banyak pemikiran yang berkeliaran, namun semua kembali pada satu muara kecintaan. Pada Allah, pada Rasulullah, pada jalan panjangnya. Pernikahan da’wah ini masih sangat panjang sahabat. Akan tetapi kami bukanlah orang yang pertama kali menapakinya dan juga bukan yang terkhir. Semoga kami senantiasa bisa berbagi dengan sahabat…menorehkan pena sejarah hari-hari kami dalam keimanan, dalam perniagaan dengan Allah dan bisnis paling menguntungkan. Inilah jalan kami…sekarang dan semoga Allah berkenan mengistiqomahkannya hingga akhir nanti. Amin

Dari Anas r.a., Rasulullah SAW. Bersabda, “ Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Alloh hanya akan menambah kehinaan kepadanya; siapa yang menikahinya karena kekayaan, Alloh hanya akan memberinya kemiskinan; siapa yang menikahi wanita karena nasabnya, Alloh akan menambah kerendahan padanya. Namun, siapa yang menikah karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Alloh akan senantiasa membarakahi dan menambah kebarakahan itu kepadanya.” (H.R. Ath- Thabrani)-
BACA SELENGKAPNYA


Wallohu ‘alam bishawwab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Terbaru

Artikel Populer

 

Design By: SkinCorner
Dari Dagangku.com, Jasa Video Shooting jakarta