Minggu, 24 Februari 2013

Tipe pria idaman tapi tidak cocok dijadikan suami


Pakar hubungan Paul Carrick Brunson menyebutkan, dalam cinta ada tujuh tipe pria yang jarang sekali masuk dalam daftar pria idaman para perempuan lajang dan dikenal dengan istilah underrated man.

Misalnya, di pesta kantor ada sembilan pria lajang. Biasanya, tujuh orang pria itu akan Anda singkirkan dan hanya dua pria yang menjadi fokus Anda kala itu. Kalau beruntung, salah satunya bisa menjadi Mr Right yang selama ini dicari. Kalau tidak, di akhir cerita Anda akan menemukan kalau salah satu pria ternyata sudah punya kekasih hati, sedang yang satunya, menganggap Anda bukan tipenya. Pembatasan seperti ini berisiko tinggi membuat Anda semakin jauh dari Mr Right.

Saran Paul, tak ada salahnya keluar dari “stigma pria idaman” dan coba mengenal tujuh tipe pria yang bukan idaman tapi layak menjadi kekasih potensial.

1. Pria introvert.
Menurut penelitian, 30-50 persen pria termasuk dalam kategori pria pendiam dan cenderung malu-malu untuk mengambil langkah agresif dalam cinta. Sebab itu, seringkali mereka kalah eksis ketimbang para pria ekstrovert yang lebih dominan dalam bersosialisasi. Paul mengatakan, bila Anda dikenalkan atau teman dengan tipe ini, cobalah untuk membuka obrolan. Diam-diam, pria introvert termasuk dalam kategori pasangan paling romantis dibanding tipe lain.

2. Dia kurang tinggi.
Dari sekian banyak permasalahan cinta yang Paul tangani, persoalan tinggi bandan merupakan topik yang paling banyak dibicarakan. Ia menyebutkan, para perempuan cenderung menolak pria pendek bila belum mengenal lebih dalam. Sebagian besar menganggapnya tidak maskulin. Padahal, maskulinitas pria tidak terbatas pada kecakapan fisik, namun juga kepribadian dan hati. Dan Anda baru bisa merasakannya bila telah mengenal seorang pria lebih dari tiga bulan. Dan beberapa peneliti menyebutkan, pria tipe ini punya sifat melindungi yang tinggi dan terbilang setia.

3. No style.
Kalau pernah menonton serial televisi Beauty and the Geek, kebanyakan pria ditolak karena mereka tidak punya “selera” dalam berpakaian atau memiliki potongan rambut yang aneh, walau sebenarnya mereka terkenal baik hati. Padahal, bila Anda membantunya untuk sedikit memperbaiki diri sebelum menolaknya di awal, ia bisa menjadi pasangan jiwa.

“Bila Anda mengharapkan hubungan yang serius, style bukanlah poin penting yang utama. Pilihlah pria yang Anda percaya bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak Anda nantinya. Style ibarat taburan bola permen di atas donat, ada baiknya tapi bukan yang terpenting,” kata Paul.

4. Anak kesayangan mama.
Beberapa pria mengaku serba salah terkait hubungan dengan ibunya. Pasalnya, mereka yang punya hubungan baik dengan sang ibu kerap dianggap anak mami yang punya sifat manja, tak bisa lepas dari orang tua, dan gemar membandingkan antara ibu dan pacarnya. Atau sebaliknya, bila mereka terlihat cuek, banyak perempuan yang berpikir kalau ia akan berlaku sama pada pasangannya. Padahal, hal itu tidak bisa menjadi patokan seperti apa ia akan memperlakukan Anda. Cukup berikan mereka kesempatan untuk membuktikan.

5. Belum mapan.
Ada yang bilang kalau pria akan merasa sangat berkesan bila Anda menemani perkembangan kariernya dari nol hingga ia sukses dibanding bila Anda bertemu dengannya saat ia sukses. Walau saat ini karier dan gajinya masih biasa-biasa saja, bila ia punya impian, usaha, dan kerja keras, bisa jadi beberapa tahun ke depan kesuksesannya akan melesat. Kecuali bila ia memang malas bekerja dan hanya mengandalkan orang lain. Sebaiknya, pikir ulang.

6. Daun muda (atau sebaliknya).
Coba deh, berapa kali Anda pernah bilang tidak mau punya pacar yang terlalu muda atau tua? Menurut Paul, dalam memilih pasangan yang tepat, sebaiknya buang jauh masalah perbedaan usia bila hanya terpaut lima tahun (lebih muda atau lebih tua).

7. Pria “berbadan dua”.
Setelah persoalan tinggi badan, berat badan pria merupakan hal kedua yang membuat perempuan bimbang untuk menerima atau menolak mereka.

“Bila gaya hidup sehat dan olahraga telah menjadi gaya hidup Anda, mengencani pria tipe ini berpotensi membuat hubungan mengasyikkan. Jadikan pacaran sebagai ajang untuk memperbaiki diri, termasuk membantunya untuk hidup sehat. Dulu saya dan istri saya pernah melakukan hal yang sama, memotivasi satu sama lain untuk rajin fitness yang berbuah manis,” cerita Paul seperti yang dilansir Essence.com.

Paul melanjutkan, “Jangan hanya terpaku pada kesan pertama, kenali lebih jauh untuk tahu sedalam apa cintanya untuk An-."
BACA SELENGKAPNYA

sumber : majalah chic

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Artikel Terbaru

Artikel Populer

 

Design By: SkinCorner
Dari Dagangku.com, Jasa Video Shooting jakarta